Then.

Terkadang aku egois.

Terkadang aku tidak mau mendengarkan.

Terkadang dunia terasa begitu menyebalkan seolah bukan aku yang salah.

Terkadang aku harus banyak berpikir dan belajar.

Terkadang aku perlu mengubur dalam-dalam ego ini. Hingga akhirnya hanya ada rasa syukur di hatiku.

…………

Sesuatu terjadi, aku pikir karena kebodohanku, ketidakyakinanku, keegoisanku, dan kelalaianku sendiri.

Aku tau, aku yang salah. Dan aku menerima dan mengakui itu. Tapi apakah rasa mengganjal di lubuk hati ini?

Maaf, jika sudah merepotkan diri sendiri, apalagi orang lain juga. Hanya itu yang bisa kuucapkan.

Kau tau, menenangkan diri sendiri tidak pernah sesederhana itu. Bahkan walaupun kau tau tidak ada satupun orang yang berusaha memelukmu, membuatmu kuat dan berkata semua akan baik-baik saja.

…………

Lucu memang kalau aku berpikir lagi tentang alasan kenapa aku dilahirkan. Apakah aku pernah bilang kalau aku tidak sanggup menjalaninya? Ah sepertinya tidak, buktinya aku masih hidup sampai hari ini.

“Karena setelah kesulitan itu ada kemudahan.”

Kalimat sederhana yang menjadi motivasi beberapa hari ini akhirnya kurang mempan juga untuk meyakinkan hati ini.

Ada yang bilang, masalah itu datangnya dari Allah, karena ulah manusia, dan penyelesainnya hanya ada di sisi Allah. Bahkan ada seorang teman yang mengirimkan kalimat motivasi di malam minggu yang penuh biru.

“Allah selalu punya cara membantumu menyelesaikan masalahmu. Jadi, jangan jauh-jauh dari Allah.”

Aku mulai berpikir kembali, tentang kemarin, tentang masa depan, tentang hari ini, tentang mereka, tentang masa lalu, tentang apa yang akan terjadi nanti, tentang bagaimana perasaanku saat ini, tentang segalanya.

Hingga aku lupa aku harus berhenti berpikir dan mulai melakukan. Aku bosan, berontak karena aku selalu saja berpikir, memikirkan hal yang tidak akan pernah terjadi, memikirkan apa yang bisa aku lakukan, memikirkan sesuatu yang tidak ada. Aku sedih.

…………

Sesungguhnya dibalik senyum dan tawa yang selalu aku tunjukkan, disanalah aku menyembunyikan semua penyesalan, kegagalan, dan kesedihan yang entah sudah seperti apa. Aku hanya ingin baik-baik saja dalam keterhebatan. Aku ingin menjadi ‘sesuatu yang penting’ tapi tanpa rasa sakit.

Karena hati ini terlalu lembut, akan sangat rentan apabila terlalu sering tersayat. Aku hanya takut suatu saat ia akan rapuh dan menyerah. Aku hanya takut, semua yang kusuka, yang kusayang, dan kuperjuangkan hingga kini terbang begitu saja meninggalkan hati ini yang masih belum selesai tergores karena lukanya.

Semoga itu tidak pernah terjadi. Karena kau masih membutuhkannya disini.

Aku pun juga masih menunggu datangnya pelukan itu, yang akan membuatku tenang, dimana aku bisa menumpahkan sedikit kesedihan di dekapannya, dan masih menanti suara yang bisa meyakinkanku kalau semua akan baik-baik saja.

Semoga segera.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s